Halo sobar Green Book! pada kesempatan kali ini kami akan memberikan pembahasan menganai pengadaan buku, bagi yang penasaran dengan pembahasnnya bisa langsung simak artikel ini sampai habis.
Buat Anda yang mengelola perpustakaan—baik itu rumah baca, perpustakaan desa, sekolah, maupun komunitas—memperbarui koleksi buku adalah hal yang sangat penting. Selain supaya isinya tetap relevan dengan perkembangan zaman, hal ini juga menjaga agar buku-buku yang tersedia punya kualitas yang baik dan bermanfaat bagi para pembaca.
Nah, mungkin Anda sedang bertanya-tanya, gimana sih cara menambah koleksi buku? Apalagi kalau koleksi yang ada sekarang masih terbatas. Tenang, ada beberapa teknik yang bisa Anda lakukan untuk pengadaan bahan pustaka. Yuk, kita bahas satu per satu!

Pengadaan bahan pustaka itu sebenarnya bukan cuma soal beli buku saja. Lebih luas dari itu, pengadaan bisa berarti berbagai cara untuk menambah koleksi, seperti melalui pembelian, sumbangan, hadiah, tukar-menukar, bahkan titipan dari pihak lain.

Dilansinr dari web resminya deepublish
Teknik pertama dalam pengadaan bahan pustaka yang bisa dilakukan adalah pembelian. Konsekuensinya, tentu perpustakaan atau organisasi harus siap mengeluarkan anggaran untuk membeli buku-buku yang dibutuhkan sebagai koleksi. Besarnya biaya yang dikeluarkan tentu akan berbeda-beda, tergantung kebutuhan dari perpustakaan yang dikelola. Untuk menghindari pembelian buku yang tidak perlu, sebaiknya dibuat terlebih dahulu daftar atau list buku yang memang benar-benar dibutuhkan oleh perpustakaan. Dengan begitu, proses pertama bisa lebih terlihat efisien.
Buat kamu yang sering mengunjungi perpustakaan, mungkin baru tahu bahwa menambah koleksi buku itu ada prosesnya, dan disebut dengan pengadaan bahan pustaka. Menariknya, pengadaan ini bukan cuma bisa dilakukan oleh pustakawan saja, tapi juga oleh siapa pun yang ingin membangun perpustakaan, seperti rumah baca atau komunitas desa. Bahkan, ada lho pengadaan bahan pustaka yang bisa diajukan secara gratis melalui berbagai program bantuan—dan hal ini akan dibahas di poin-poin selanjutnya.
Terkait teknik pembelian ini, buku bisa dibeli secara manual ke agen buku, ke toko buku terdekat, atau langsung ke penerbit. Nah, kalau ingin lebih hemat, disarankan untuk membeli langsung ke penerbitnya. Kenapa? Karena dari segi harga, biasanya lebih murah karena tidak melalui perantara. Selain itu, kualitas buku juga lebih terjamin. Keuntungan lainnya, kamu juga bisa mulai membangun relasi dengan pihak penerbit. Siapa tahu, ke depannya bisa terjalin kerja sama jangka panjang. Bahkan, beberapa penerbit memberikan harga khusus atau potongan menarik untuk pelanggan tetap mereka. Jadi, selain dapat buku yang dibutuhkan, kamu juga membuka peluang untuk kerja sama yang lebih luas ke
Teknik pengadaan bahan pustaka yang kedua adalah lewat hadiah. Cara ini cukup menguntungkan, apalagi kalau kamu punya rencana membangun perpustakaan pribadi di rumah atau di lingkungan tempat tinggal. Tapi, mencari peluang untuk dapat hadiah buku memang nggak gampang. Karena itu, dibutuhkan kejelian dan usaha untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya. Salah satu cara yang bisa dicoba adalah dengan membuat proposal rencana pembangunan perpustakaan, lengkap dengan tujuan, target pengunjung, dan jenis buku yang dibutuhkan. Proposal ini kemudian bisa kamu kirimkan ke berbagai pihak—seperti penerbit, agen buku, atau bahkan langsung ke instansi pemerintah, terutama lembaga yang bergerak di bidang pendidikan atau literasi masyarakat.
Memang nggak ada jaminan proposalmu akan langsung diterima, tapi nggak ada salahnya mencoba, kan? Siapa tahu, rezeki datang dari situ dan kamu bisa mendapatkan bantuan buku, baik untuk memulai perpustakaan baru maupun sekadar menambah koleksi yang sudah ada. Selain itu, ada juga cara lain yang bisa kamu lakukan, misalnya dengan menawarkan kerja sama ke penerbit yang punya stok buku return—yaitu buku-buku yang dikembalikan dari toko karena tidak laku. Banyak penerbit justru menyambut baik proposal seperti ini, karena di satu sisi mereka bisa membantu kegiatan literasi, dan di sisi lain buku-buku mereka tetap sampai ke masyarakat lewat perpustakaan. Jadi, saling menguntungkan, kan?
baca juga : Cara Membuat Referensi dari Buku
Teknik pengadaan bahan pustaka yang ketiga adalah lewat pemesanan. Teknik ini biasanya dipakai kalau buku yang ingin dibeli jumlahnya banyak, tapi stok di penerbit sedang kosong. Jadi, penerbit akan minta waktu untuk mencetak ulang buku-buku yang dipesan. Prosesnya memang nggak bisa langsung cepat, karena harus menunggu buku dicetak dulu.
Menariknya, teknik pemesanan ini nggak cuma dilakukan oleh perpustakaan kecil atau perseorangan saja. Pemerintah lewat Perpustakaan Nasional juga sering melakukan pemesanan buku ke beberapa penerbit. Tapi tentu saja, penerbit yang diajak kerja sama bukan sembarang penerbit. Umumnya mereka adalah penerbit yang sudah terdaftar di IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) dan memenuhi syarat lainnya.
Perlu dicatat juga, pemesanan biasanya baru dilakukan kalau jumlah buku yang diminta cukup banyak. Kalau cuma pesan sedikit dan stoknya ada, buku akan langsung dikirim tanpa harus menunggu cetak ulang. Kecuali kalau kamu pesan ke penerbit indie—karena mereka biasanya mencetak sesuai pesanan. Jadi, walaupun kamu cuma pesan sedikit, tetap harus tunggu proses cetak dulu.
Teknik pengadaan bahan pustaka lewat titipan sebenarnya kurang begitu diminati oleh para pengelola perpustakaan. Alasannya, karena prosesnya dianggap cukup merepotkan dan punya beban tanggung jawab yang lebih besar. Sistemnya pun cenderung lebih rumit dibanding teknik pengadaan lainnya.
Tapi, teknik ini masih bisa jadi pilihan, terutama untuk perpustakaan kecil atau rumah baca yang memang belum punya banyak koleksi dan tidak punya pilihan lain. Demi bisa punya bahan bacaan dan menambah koleksi, teknik titipan ini kadang jadi jalan keluar, meskipun harus siap dengan segala risikonya.
Teknik pengadaan bahan pustaka yang terakhir adalah tukar-menukar. Teknik ini biasanya lebih cocok dilakukan dalam bentuk kerja sama antara perpustakaan dan instansi atau organisasi lain. Jadi, koleksi buku yang dimiliki bisa saling dipertukarkan sesuai kebutuhan masing-masing.
Menurut buku Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi (2004:5), teknik tukar-menukar ini nggak bisa langsung dilakukan begitu saja. Ada beberapa tahap yang harus dipenuhi. Pertama, bahan pustaka yang akan ditukar harus sudah terdaftar dengan jelas. Lalu, perpustakaan juga harus mengirimkan daftar penawaran buku yang ingin ditukar, lengkap dengan informasi biaya kirim dan pengembaliannya.
Nggak berhenti sampai di situ, pihak yang diajak tukar buku juga harus menyetujui daftar tersebut. Setelah itu, dilakukan pencatatan alamat pemesan, dan konfirmasi bahan pustaka yang dipilih. Ya, kalau dilihat sekilas, memang prosesnya cukup panjang dan agak ribet.
Tapi meskipun kelihatannya ribet, teknik ini justru dianggap cukup efektif oleh banyak penggiat literasi. Karena lewat cara ini, perpustakaan bisa mendapatkan buku-buku yang sulit dibeli atau bahkan nggak dijual di pasaran. Selain itu, metode ini juga bisa jadi solusi untuk menjadi pengganti buku-buku yang sudah tidak relevan di koleksi perpustakaan, dan menukarnya dengan yang lebih bermanfaat. Jadi, meski perlu usaha lebih, hasilnya cukup menjanjikan.
Nah, itulah beberapa teknik pengadaan bahan pustaka yang penting untuk diketahui, terutama buat kamu yang ingin fokus membuka perpustakaan sendiri atau baru mulai bekerja sebagai pustakawan. Semoga penjelasan tadi bisa membantu menjawab rasa penasaran kamu seputar dunia literasi dan perbukuan.
Kalau kamu masih bingung penerbit mana yang bisa diajak kerja sama untuk pengadaan buku, kamu juga bisa coba ajukan ke Penerbit Deepublish. Mereka sering menawarkan pengadaan bahan pustaka dengan harga yang lebih terjangkau. Soal syarat dan ketentuannya, kamu bisa langsung cek di website resminya, ya Semoga informasi ini bermanfaat dan bisa jadi bekal untuk kamu yang sedang merintis jalan di dunia literasi.
Share this: